Nabi Muhammad Saw dapat dikatakan mulai melakukan kegiatan bisnis sejak usia 12 tahun dengan cara ikut pamannya berdagang. Setelah mencapai usia 15 tahun, beliau dengan bekal pengalaman “magang” berdagang bersama pamannya tersebut kemudian mulai menjual sendiri barang-barang berupa kain, dan lain-lain. Pada usia 25 tahun beliau telah mampu mengumpulkan harta senilai 125 ekor unta yang kemudian dijadikan mahar untuk melamar Siti Khodijah.
Selain Nabi, kelima sahabat Nabi Saw kecuali Ali bin Abi Thalib juga adalah pedagang. Namun ketika para sahabat tersebut diserahi amanat sebagai amirul mukminin, Nabi melarang mereka berdagang dan sebagai gantinya menawarkan dana dari baitul maal untuk nafkah kebutuhan sehari-hari mereka.
Ada beberapa keistimewaan dari praktek perdagangan yang beliau lakukan sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Diantaranya:
1. Muhammad tidak memulai bisnis dengan modal dana. Bahkan pada saat itu beliau sangat miskin.
2. Beliau tidak memulai bisnis dengan memanfaatkan KKN.
3. Beliau tidak memiliki ilmu manajemen yang rumit bahkan beliau saat itu belum bisa membaca dan menulis.
Lalu bagaimana bisa hanya dengan modal sedemikian minimalnya menurut kaca mata orang awam itu beliau berhasil menjadi pedagang yang besar yang sukses bahkan mampu meluaskan usahanya ke seluruh negeri? Ada beberapa tahapan dan kunci utama:
1. Beliau dikenal sebagai Al ‘Amin, orang yang sangat bisa dipercaya. Beliau menggunakan kepercayaan itu dengan bijaksana, tak pernah menyalahgunakannya.
2. Beliau tidak memiliki hambatan mental (mental blocking) dalam melaksanakan usahanya. Hal ini sangat dipengaruhi oleh kepercayaan orang-orang terhadap beliau.
3. Beliau memulai bisnis dengan menguasai pasar terlebih dahulu. Dengan cara ikut pamannya berdagang, beliau mengetahui di mana membeli barang yang murah dan di mana menjual barang dengan harga yang lebih baik.
4. Setelah menguasai pasar, di Madinah beliau kemudian beralih ke sektor industri pertanian, namun masih tetap melaksanakan kegiatan pemasaran produk dari kaum non muslim di sana. Sehingga bisnis kaum Quraisy saat itu masih dibiarkan berkembang.
5. Dengan bertambahnya tenaga kerja, beliau lalu mulai menyusun tata kerja organisasi “perusahaanya”.
6. Akhirnya para penerusnya (di bidang bisnis) mengembangkan usaha ke seluruh pelosok penjuru.
Untuk menjadi seorang pengusaha muslim yang sukses, di bawah ini adalah rahasia berbisnis yang harus dilaksanakan:
1. Jangan pernah bermain-main dengan kejujuran. Kejujuran adalah paling utama. Mencari nafkan bukanlah ditujukan untuk mencari rizqy karena rizqy sudah dijatahkan kepada setiap makhluq. Mencari nafkan adalah menjemput rizqy dengan jalan amal sholeh.
2. Keramahan dan Kelembutan hati. Ingat, hati hanya dapat ditaklukkan dengan kelemahlembutan dan kejujuran, bukan dengan kekerasan. Dengan kelemahlembutan ini juga kita dapat menggerakkan orang lain untuk mau bekerjasama dalam membangun bisnis.
3. Gemar berbuat kebajikan sekecil apapun. Tidak ada kebaikan yang tidak disempurnakan balasannya oleh ALLAH. Jadikan setiap detik menjadi kebaikan.
4. Cakap dan Profesional. Berarti lebih berorientasi pada kredibilitas, bukan hanya pada keuntungan materi. Profesionalisme ini perlu diupayakan walau harus meminta pengorbanan.
5. Inovatif. Berupaya terus menambah pengetahuan dan kemampuan. Tiada hari tanpa penambahan ilmu. Tiada hari tanpa penambahan wawasan. Tiada hari tanpa koreksi.
Dalam berusaha seringkali seseorang membayangkan hasil akhir yang hendak dicapai. Atauseringkalimelihat kesuksesan yang telah dicapai oleh pebisnis sukses. Namun seringkali pula terlupabahwauntuk mencapai hasil akhir berupa kesuksesan itu diperlukan tahapan-tahapan yang melelahkanyangterkadang dapat menjatuhkan niat dan ambisi mencapai sukses itu sendiri. Maka sebaiknyalahJANGAN TERPESONA
Sumber: … – Muhammad Saw Sebagai Pedagang.
Kisah Bilal Bin Rabah Sang Muadzin Rasulullah
Bilal bin Rabah, Muazin Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam, memiliki kisah menarik tentang sebuah perjuangan mempertahankan aqidah. Sebuah kisah yang tidak akan pernah membosankan, walaupun terus diulang-ulang sepanjang zaman. Kekuatan alurnya akan membuat setiap orang tetap penasaran untuk mendengarnya.Bilal lahir di daerah as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ayahnya bernama Rabah, sedangkan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam yang tinggal di Mekah. Karena ibunya itu, sebagian orang memanggil Bilal dengan sebutan ibnus-Sauda’ (putra wanita hitam). Bilal dibesarkan di kota Ummul Qura (Mekah) sebagai seorang budak milik keluarga bani Abduddar. Saat ayah mereka meinggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh penting kaum kafir.
Ketika Mekah diterangi cahaya agama baru dan Rasul yang agung Sholallahu alaihi wasallam mulai mengumandangkan seruan kalimat tauhid, Bilal adalah termasuk orang-orang pertama yang memeluk Islam. Saat Bilal masuk Islam, di bumi ini hanya ada beberapa orang yang telah mendahuluinya memeluk agama baru itu, seperti Ummul Mu’minin Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar ash-Shiddiq, Ali bin Abu Thalib, ‘Ammar bin Yasir bersama ibunya, Sumayyah, Shuhaib ar-Rumi, dan al-Miqdad bin al-Aswad.
Bilal merasakan penganiayaan orang-orang musyrik yang lebih berat dari siapa pun. Berbagai macam kekerasan, siksaan, dan kekejaman mendera tubuhnya. Namun ia, sebagaimana kaum muslimin yang lemah lainnya, tetap sabar menghadapi ujian di jalan Allah itu dengan kesabaran yang jarang sanggup ditunjukkan oleh siapa pun.
Orang-orang Islam seperti Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib masih memiliki keluarga dan suku yang membela mereka. Akan tetapi, orang-orang yang tertindas (mustadh’afun) dari kalangan hamba sahaya dan budak itu, tidak memiliki siapa pun, sehingga orang-orang Quraisy menyiksanya tanpa belas kasihan. Quraisy ingin menjadikan penyiksaan atas mereka sebagai contoh dan pelajaran bagi setiap orang yang ingin mengikuti ajaran Muhammad.
Kaum yang tertindas itu disiksa oleh orang-orang kafir Quraisy yang berhati sangat kejam dan tak mengenal kasih sayang, seperti Abu Jahal yang telah menodai dirinya dengan membunuh Sumayyah. Ia sempat menghina dan mencaci maki, kemudian menghunjamkan tombaknya pada perut Sumayyah hingga menembus punggung… , dan gugurlah syuhada pertama dalam sejarah Islam.
Sementara itu, saudara-saudara seperjuangan Sumayyah, terutama Bilal bin Rabah, terus disiksa oleh Quraisy tanpa henti. Biasanya, apabila matahari tepat di atas ubun-ubun dan padang pasir Mekah berubah menjadi perapian yang begitu menyengat, orang-orang Quraisy itu mulai membuka pakaian orang-orang Islam yang tertindas itu, lalu memakaikan baju besi pada mereka dan membiarkan mereka terbakar oleh sengatan matahari yang terasa semakin terik. Tidak cukup sampai di sana, orang-orang Quraisy itu mencambuk tubuh mereka sambil memaksa mereka mencaci maki Muhammad.
Adakalanya, saat siksaan terasa begitu berat dan kekuatan tubuh orang-orang Islam yang tertindas itu semakin lemah untuk menahannya, mereka mengikuti kemauan orang-orang Quraisy yang menyiksa mereka secara lahir, sementara hatinya tetap pasrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kecuali Bilal-semoga Allah meridhainya. Baginya, penderitaan itu masih terasa terlalu ringan jika dibandingkan dengan kecintaannya kepada Allah dan perjuangan di jalan-Nya.
Orang Quraisy yang paling banyak menyiksa Bilal adalah Umayyah bin Khalaf bersama para algojonya. Mereka menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk, namun Bilal hanya berkata, “Ahad, Ahad … (Allah Maha Esa).” Mereka menindih dada telanjang Bilal dengan batu besar yang panas, Bilal pun hanya berkata, “Ahad, Ahad ….” Mereka semakin meningkatkan penyiksaannya, namun Bilal tetap mengatakan, “Ahad, Ahad….”
Mereka memaksa Bilal agar memuji Latta dan ‘Uzza, tapi Bilal justru memuji nama Allah dan Rasul-Nya. Mereka terus memaksanya, “Ikutilah yang kami katakan!”
Bilal menjawab, “Lidahku tidak bisa mengatakannya.” Jawaban ini membuat siksaan mereka semakin hebat dan keras.
Bilal menjawab, “Lidahku tidak bisa mengatakannya.” Jawaban ini membuat siksaan mereka semakin hebat dan keras.
Apabila merasa lelah dan bosan menyiksa, sang tiran, Umayyah bin Khalaf, mengikat leher Bilal dengan tali yang kasar lalu menyerahkannya kepada sejumlah orang tak berbudi dan anak-anak agar menariknya di jalanan dan menyeretnya di sepanjang Abthah2 Mekah. Sementara itu, Bilal menikmati siksaan yang diterimanya karena membela ajaran Allah dan Rasul-Nya. Ia terus mengumandangkan pernyataan agungnya, “Ahad…, Ahad…, Ahad…, Ahad….” Ia terus mengulang-ulangnya tanpa merasa bosan dan lelah.
Suatu ketika, Abu Bakar Rodhiallahu anhu mengajukan penawaran kepada Umayyah bin Khalaf untuk membeli Bilal darinya. Umayyah menaikkan harga berlipat ganda. Ia mengira Abu Bakar tidak akan mau membayarnya. Tapi ternyata, Abu Bakar setuju, walaupun harus mengeluarkan sembilan uqiyah emas.
Seusai transaksi, Umayyah berkata kepada Abu Bakar, “Sebenarnya, kalau engkau menawar sampai satu uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk menjualnya.”
Abu Bakar membalas, “Seandainya engkau memberi tawaran sampai seratus uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk membelinya…”
Abu Bakar membalas, “Seandainya engkau memberi tawaran sampai seratus uqiyah-pun, maka aku tidak akan ragu untuk membelinya…”
Ketika Abu Bakar memberi tahu Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam bahwa ia telah membeli sekaligus menyelamatkan Bilal dari cengkeraman para penyiksanya, Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam berkata kepada Abu Bakar, “Kalau begitu, biarkan aku bersekutu denganmu untuk membayarnya, wahai Abu Bakar.”
Ash-Shiddiq Rodhiallahu anhu menjawab, “Aku telah memerdekakannya, wahai Rasulullah.”
Ash-Shiddiq Rodhiallahu anhu menjawab, “Aku telah memerdekakannya, wahai Rasulullah.”
Setelah Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam mengizinkan sahabat-sahabatnya untuk hijrah ke Madinah, mereka segera berhijrah, termasuk Bilal Rodhiallahu anhu.. Setibanya di Madinah, Bilal tinggal satu rumah dengan Abu Bakar dan ‘Amir bin Fihr. Malangnya, mereka terkena penyakit demam. Apabila demamnya agak reda, Bilal melantunkan gurindam kerinduan dengan suaranya yang jernih,
Duhai malangnya aku, akankah suatu malam nanti. Aku bermalam di Fakh dikelilingi pohon idzkhir dan jalil. Akankah suatu hari nanti aku minum air Mijannah Akankah aku melihat lagi pegunungan Syamah dan Thafil Tidak perlu heran, mengapa Bilal begitu mendambakan Mekah dan perkampungannya; merindukan lembah dan pegunungannya, karena di sanalah ia merasakan nikmatnya iman…. Di sanalah ia menikmati segala bentuk siksaan untuk mendapatkan keridhaan Allah…. Di sanalah ia berhasil melawan nafsu dan godaan setan.
Bilal tinggal di Madinah dengan tenang dan jauh dari jangkauan orang-orang Quraisy yang kerap menyiksanya. Kini, ia mencurahkan segenap perhatiannya untuk menyertai Nabi sekaligus kekasihnya, Muhammad Sholallahu alaihi wasallam.. Bilal selalu mengikuti Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam ke mana pun beliau pergi. Selalu bersamanyma saat shalat maupun ketika pergi untuk berjihad. Kebersamaannya dengan RasulullahSholallahu alaihi wasallam ibarat bayangan yang tidak pernah lepas dari pemiliknya.
Ketika Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam selesai membangun Masjid Nabawi di Madinah dan menetapkan azan, maka Bilal ditunjuk sebagai orang pertama yang mengumandangkan azan (muazin) dalam sejarah Islam.
Biasanya, setelah mengumandangkan azan, Bilal berdiri di depan pintu rumah Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam seraya berseru, “Hayya alashsholaati hayya alashsholaati…(Mari melaksanakan shalat, mari meraih keuntungan….)” Lalu, ketika Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam keluar dari rumah dan Bilal melihat beliau, Bilal segera melantunkan iqamat.
Suatu ketika, Najasyi, Raja Habasyah, menghadiahkan tiga tombak pendek yang termasuk barang-barang paling istimewa miliknya kepada Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam. Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam mengambil satu tombak, sementara sisanya diberikan kepada Ali bin Abu Thalib dan Umar ibnul Khaththab, tapi tidak lama kemudian, beliau memberikan tombak itu kepada Bilal. Sejak saat itu, selama Nabi hidup, Bilal selalu membawa tombak pendek itu ke mana-mana. Ia membawanya dalam kesempatan dua shalat id (Idul Fitri dan Idul Adha), dan shalat istisqa’ (mohon turun hujan), dan menancapkannya di hadapan beliau saat melakukan shalat di luar masjid.
Bilal menyertai Nabi Sholallahu alaihi wasallam dalam Perang Badar. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah memenuhi janji-Nya dan menolong tentara-Nya. Ia juga melihat langsung tewasnya para pembesar Quraisy yang pernah menyiksanya dengan hebat. Ia melihat Abu Jahal dan Umayyah bin Khalaf tersungkur berkalang tanah ditembus pedang kaum muslimin dan darahnya mengalir deras karena tusukan tombak orang-orang yang mereka siksa dahulu.
Ketika Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam menaklukkan kota Mekah, beliau berjalan di depan pasukan hijaunya bersama ‘sang pengumandang panggilan langit’, Bilal bin Rabah. Saat masuk ke Ka’bah, beliau hanya ditemani oleh tiga orang, yaitu Utsman bin Thalhah, pembawa kunci Ka’bah, Usamah bin Zaid, yang dikenal sebagai kekasih Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam dan putra dari kekasihnya, dan Bilal bin Rabah, Muazin Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam..
Shalat Zhuhur tiba. Ribuan orang berkumpul di sekitar Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam, termasuk orang-orang Quraisy yang baru masuk Islam saat itu, baik dengan suka hati maupun terpaksa. Semuanya menyaksikan pemandangan yang agung itu. Pada saat-saat yang sangat bersejarah itu, Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam memanggil Bilal bin Rabah agar naik ke atap Ka’bah untuk mengumandangkan kalimat tauhid dari sana. Bilal melaksanakan perintah Rasul Sholallahu alaihi wasallam dengan senang hati, lalu mengumandangkan azan dengan suaranya yang bersih dan jelas.
Ribuan pasang mata memandang ke arahnya dan ribuan lidah mengikuti kalimat azan yang dikumandangkannya. Tetapi di sisi lain, orang-orang yang tidak beriman dengan sepenuh hatinya, tak kuasa memendam hasad di dalam dada. Mereka merasa kedengkian telah merobek-robek hati mereka.
Saat azan yang dikumandangkan Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”. Juwairiyah binti Abu Jahal bergumam, “Sungguh, Allah telah mengangkat kedudukanmu…. Memang, kami tetap akan shalat, tapi demi Allah, kami tidak menyukai orang yang telah membunuh orang-orang yang kami sayangi.” Maksudnya, adalah ayahnya yang tewas dalam Perang Badar.
Khalid bin Usaid berkata, “Aku bersyukur kepada Allah yang telah memuliakan ayahku dengan tidak menyaksikan peristiwa hari ini.” Kebetulan ayahnya meninggal sehari sebelum Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam masuk ke kota Mekah..
Sementara al-Harits bin Hisyam berkata, “Sungguh malang nasibku, mengapa aku tidak mati saja sebelum melihat Bilal naik ke atas Ka’bah.”
Al-Hakam bin Abu al-’Ash berkata, “Demi Allah, ini musibah yang sangat besar. Seorang budak bani Jumah bersuara di atas bangunan ini (Ka’bah).”
Sementara Abu Sufyan yang berada dekat mereka hanya berkata, “Aku tidak mengatakan apa pun, karena kalau aku membuat pernyataan, walau hanya satu kalimat, maka pasti akan sampai kepada Muhammad bin Abdullah.”
Al-Hakam bin Abu al-’Ash berkata, “Demi Allah, ini musibah yang sangat besar. Seorang budak bani Jumah bersuara di atas bangunan ini (Ka’bah).”
Sementara Abu Sufyan yang berada dekat mereka hanya berkata, “Aku tidak mengatakan apa pun, karena kalau aku membuat pernyataan, walau hanya satu kalimat, maka pasti akan sampai kepada Muhammad bin Abdullah.”
Bilal menjadi muazin tetap selama Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam hidup. Selama itu pula, Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam sangat menyukai suara yang saat disiksa dengan siksaan yang begitu berat di masa lalu, ia melantunkan kata, “Ahad…, Ahad… (Allah Maha Esa).”
Sesaat setelah Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam mengembuskan napas terakhir, waktu shalat tiba. Bilal berdiri untuk mengumandangkan azan, sementara jasad Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam masih terbungkus kain kafan dan belum dikebumikan. Saat Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, tiba-tiba suaranya terhenti. Ia tidak sanggup mengangkat suaranya lagi. Kaum muslimin yang hadir di sana tak kuasa menahan tangis, maka meledaklah suara isak tangis yang membuat suasana semakin mengharu biru.
Sejak kepergian Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam, Bilal hanya sanggup mengumandangkan azan selama tiga hari. Setiap sampai kepada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”, ia langsung menangis tersedu-sedu. Begitu pula kaum muslimin yang mendengarnya, larut dalam tangisan pilu.
Karena itu, Bilal memohon kepada Abu Bakar, yang menggantikan posisi Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam sebagai pemimpin, agar diperkenankan tidak mengumandangkan azan lagi, karena tidak sanggup melakukannya. Selain itu, Bilal juga meminta izin kepadanya untuk keluar dari kota Madinah dengan alasan berjihad di jalan Allah dan ikut berperang ke wilayah Syam.
Awalnya, ash-Shiddiq merasa ragu untuk mengabulkan permohonan Bilal sekaligus mengizinkannya keluar dari kota Madinah, namun Bilal mendesaknya seraya berkata, “Jika dulu engkau membeliku untuk kepentingan dirimu sendiri, maka engkau berhak menahanku, tapi jika engkau telah memerdekakanku karena Allah, maka biarkanlah aku bebas menuju kepada-Nya.”
Abu Bakar menjawab, “Demi Allah, aku benar-benar membelimu untuk Allah, dan aku memerdekakanmu juga karena Allah.”
Bilal menyahut, “Kalau begitu, aku tidak akan pernah mengumandangkan azan untuk siapa pun setelah Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam wafat.”
Abu Bakar menjawab, “Baiklah, aku mengabulkannya.” Bilal pergi meninggalkan Madinah bersama pasukan pertama yang dikirim oleh Abu Bakar. Ia tinggal di daerah Darayya yang terletak tidak jauh dari kota Damaskus. Bilal benar-benar tidak mau mengumandangkan azan hingga kedatangan Umar ibnul Khaththab ke wilayah Syam, yang kembali bertemu dengan Bilal Rodhiallahu anhu setelah terpisah cukup lama.
Umar sangat merindukan pertemuan dengan Bilal dan menaruh rasa hormat begitu besar kepadanya, sehingga jika ada yang menyebut-nyebut nama Abu Bakar ash-Shiddiq di depannya, maka Umar segera menimpali,
“Abu Bakar adalah tuan kita dan telah memerdekakan tuan kita (maksudnya Bilal).”
Dalam kesempatan pertemuan tersebut, sejumlah sahabat mendesak Bilal agar mau mengumandangkan azan di hadapan al-Faruq Umar ibnul Khaththab. Ketika suara Bilal yang nyaring itu kembali terdengar mengumandangkan azan, Umar tidak sanggup menahan tangisnya, maka iapun menangis tersedu-sedu, yang kemudian diikuti oleh seluruh sahabat yang hadir hingga janggut mereka basah dengan air mata. Suara Bilal membangkitkan segenap kerinduan mereka kepada masa-masa kehidupan yang dilewati di Madinah bersama Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam..
Bilal, “pengumandang seruan langit itu”, tetap tinggal di Damaskus hingga wafat. Saat menjelang kematiannya, istri Bilal menunggu di sampingnya dengan setia seraya berkata, “Oh, betapa sedihnya hati ini….”
Tapi, setiap istrinya berkata seperti itu, Bilal membuka matanya dan membalas, “Oh, betapa bahagianya hati ini…. ” Lalu, sambil mengembuskan napas terakhirnya, Bilal berkata lirih,
“Esok kita bersua dengan orang-orang terkasih…
Muhammad dan sahabat-sahabatnya
Esok kita bersua dengan orang-orang terkasih…
Muhammad dan sahabat-sahabatnya”. (km) www.suaramedia.com
01.03 | Posted in History, Kisah Islami | Read More »
Asal Usul Adzan
Sebelum adzan Subuh sempat berkumandang di wilayah terbarat benua Afrika, adzan Dzuhur pun siap berkumandang menjelajah belahan dunia lainnya. Sementara kumandang adzan Dzuhur belum sempat terdengar kembali di bagian timur Indonesia, adzan Ashar telah siap menjelajah belahan dunia lainnya. Saat gema adzan Ashar belum selesai, Adzan Magrib telah merambah bumi ini. Selang beberapa saat adzan Isya’ pun siap melanjutkan. Ketika gema adzan Isya’ belum selesai di benua Amerika, adzan Subuh sudah kembali terdengar di sebagian wilayah Indonesia. Seiring bergantinya siang dan malam ternyata adzan akan selalu berkumandang di muka bumi ini. Tanpa kita sadari, para muadzin di seluruh penjuru dunia ini, tak henti-hentinya bersahutan mengumandangkan adzan. Insya Allah, gema adzan akan terus mengawal dunia berputar hingga akhir zaman.
Untaian kalimat memikat di atas saya kutip dari teks yang menyertai kumandang adzan Magrib di Metro TV. Mohon maaf, saya tidak hendak mengupas narasi di pembuka posting ini. Akan tetapi hal lain yang masih bergandengan terkait Asal Asul Adzan.
Tahukah pembaca bagaimana Asal Usul Adzan itu? Tulisan ringan ini akan mengupas tuntas soal dimaksud. Sebagian rujukan yang digunakan untuk penulisan Asal Usul Adzan dan hal yang berkaitan dengannya saya sarikan dari buku Ensiklopedi Tematis Al-Qur’an Jilid 1, terbitan PT Kharisma Ilmu. Sebagian lainnya saya rujuk dari sumber-sumber kompeten.
Tulisan Asal Usul Adzan ini juga saya maksudkan sebagai counter artikel sejenis yang dibuat Forum Murtadin Indonesia (FMI) yang sangat melecehkan umat Islam. Sila pembaca lihat situsnya: http://trulyislam.blogspot.com. Di artikel FMI tersebut, setelah dikupas soal Asal Asul Adzan dengan cukup obyektif, dibagian akhir tulisan ada kalimat menyentak dengan sub-judul ‘Seperti Biasa Muhammad Mencomot Habis Ajaran Yahudi dan Kristen‘. Selanjutnya FMI mengejek, “Karena ingin menyaingi ibadah umat kafir, akhirnya ia suruh Bilal untuk berteriak sekencang-kencangnya. Hal yang sama diikuti para pengurus masjid jaman sekarang. Memasang toa dan speaker ke empat penjuru dengan volume suara sekeras-kerasnya, tanpa memperdulikan bagaimana perasaan umat agama lain.”
Saya tak perlu kebakaran jenggot dengan pernyataan memerahkan telinga dari FMI di atas, cukuplah bahwa sebuah tulisan di dunia maya musti dibalas dengan tulisan senada di dunia maya pula, namun dengan perspektif berimbang dan tanpa prasangka. Lantaran tulisan FMI memenangkan pertarungan kata kunci ‘Asal Usul Adzan‘ di mesin pencari utama (Google, Yahoo, Bing) maka tulisanAsal Usul Adzan ini di satu sisi dimaksudkan untuk bertanding meraih posisi puncak di halaman utama mesin pencari. Setidaknya bisa satu level di atas situs FMI atau satu level di bawahnya. Di sisi lain, tentu saja agar informasi tentangAsal Usul Adzan tidak terdistorsi.
***
Adzan merupakan sarana untuk mengingatkan bahwa waktu shalat telah tiba. Dikarenakan itu, setiap muslim seyogyanya segera mendirikan shalat tatkala adzan berkumandang. Sebagaimana kita ketahui, shalat merupakan salah satu dari lima rukun Islam.
Kumandang adzan, baik di masa kini maupun masa lalu, adalah keunikan karakteristik Islam. Ini sangat terasa apabila seorang muslim bermukim atau mengunjungi ibukota negara-negara Barat. Tatkala mendengar suara adzan berkumandang dari sebuah masjid, “Allahu Akbar, Allahu Akbar,” ia akan merasakan kesan mendalam yang ditimbulkan suara itu. Lebih mengesankan lagi bila ia mendengarnya di sela-sela hiruk-pikuk kehidupan modern di sekeliling masjid itu. Hanya dengan mendengarnya, muslim yang baik akan segera meninggalkan gemerlap kehidupan yang menipu dan palsu. Dengan menghayati makna adzan, sirnalah segala gemerlap dunia yang menipu dari pandangan seorang muslim.
Asal Usul Adzan begitu unik dan menarik. Tuhan Yang Maha Besar melapangkankan penduduk Madinah untuk memeluk Islam. Mereka –kalangan Ansar– menyambut kedatangan Nabi Muhammmad SAW dan pengikutnya –kalangan muhajirin– memasuki Madinah, setelah sebelumnya Allah SWT memperkenankan nabi berhijrah. Di kota Madinah, Islam pun tersebar dengan cepat. Fenomena ini sekaligus berarti bahwa kuantitas umat Islam bertambah.
Seiring dengan bertambahnya kuantitas umat Islam di Madinah, munculah kesulitan kecil di antara kaum muslim untuk memperkirakan waktu shalat. Sampai suatu hari pada tahun kedua Hijriah, sejumlah orang menemui Rasulullah SAW. Di antara hadirin, terdapat Umar bin Khattab. Pertemuan tersebut membahas topik perlunya berkumpul untuk melaksanakan shalat berjamaah dan mencari solusi bagaimana memberitahu umat Islam bahwa waktu shalat tengah menjelang.
Sejumlah hadirin mengusulkan penggunaan lonceng, sama dengan yang digunakan orang Nasrani untuk memanggil jemaatnya ke gereja. Adapun hadirin yang lain menawarkan terompet yang terbuat dari tanduk, sama dengan yang digunakan orang Yahudi ketika memanggil penganutnya ke sinagog-sinagog. Usulan lainnya adalah penggunaan api. Jadi setiap kali waktu shalat tiba, di tempat yang tingg dinyalakan api. Dengan begitu, seluruh muslim dapat melihatnya dan bergegas menuju masjid.
Umar bin Khattab tampak asyik menyimak jalannya musyawarah tersebut. Merasa tidak tertarik dengan ketiga usulan yang terlontar, ia berkata dengan lugas, “Mengapa bukan seorang muslim saja yang menyeru untuk shalat?” Tidak diduga, justru Nabi Muhammad SAW menyetujui gagasan Umar bin Khattab. Sembari memandang Bilal bin Rabah, Nabi berucap, “Hai Bilal, berdiri dan serukanlah shalat!”
Berdasarkan kisah di atas, dapat ditarik beberapa kesimpulan. Pertama,seorang muadzin harus mengumandangkan adzan dalam posisi berdiri. Ucapan Nabi Muhammad SAW, “Hai Bilal, berdiri dan serukanlah shalat!” secara jelas tidak membenarkan adzan dikumandangkan sembari duduk. Di samping itu, nyatalah bahwa muadzin pertama dalam sejarah Islam adalah Bilal bin Rabah.
Kedua, dalam setiap keputusannya, Nabi Muhammad SAW selalu bermusyawarah dengan umatnya. Tindakan Nabi ini selaras dengan Kitab Suci dalam surat Ali Imron ayat 159: “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu (Muhammad berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Lantaran itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”
Sementara itu, lafal adzan yang kita kenal selama ini berasal dari mimpi Abdullah bin Zayd yang kemudian diceritakan kepada Rasulullah, dan kemudian diajarkan dan dihafal oleh Bilal bin Rabah. Bilal dipilih Rasulullah sebagai muadzin pertama lantaran ia diketahui memiliki suara yang merdu.
Dari mana Rasulullah SAW mengetahui bahwa Bilal bin Rabah punya suara merdu? Tidak seorang penulis sejarah pun yang dapat menjawabnya. Akan tetapi diduga Nabi Muhammad SAW mengetahui dari istrinya Aisyah binti Abu Bakar. Tatkala Bilal dan Abu Bakar menderita demam setibanya di Madinah, Aisyahlah yang merawat keduanya. Sepengetahuan Aisyah, jika terserang panas tinggi, Bilal acapkali mengigau dan melantunkan beberapa bait syair Hassan bin Tsabit yang digubah untuk memuji Rasulullah SAW. Wajar jika Aisyah binti Abu Bakar menceritakan fenomena menarik itu kepada Rasulullah SAW.Dari kisah penunjukkan Bilal bin Rabah di atas, dapat kita tarik benang merah bahwa seorang muadzin juga dipersyaratkan memiliki suara merdu. Tidak seperti yang kadangkala kita saksikan bahwa seseorang dengan vokal pas-pasan bahkan fals memaksakan diri melantunkan lafal adzan dari pengeras suara di masjid-masjid atau surau-suara. Di mana orang yang mendengar lantunannya saja merasa jengkel. 
Lafal adzan yang diakui Rasulullah SAW adalah sebagaimana yang diajarkan Abdullah bin Zayd kepada Bilal bin Rabah. Namun demikian, diketahui juga bahwa terdapat kalimat tambahan dalam adzan Subuh yang tidak dijumpai dalam adzan yang diakui Nabi SAW. Kalimat itu adalah ash-shalatu khairun minan-naum, ash-shalatu khairun minan-naum, yang artinya shalat itu lebih baik ketimbang tidur.
Sebagian sejarawan Islam mengalamatkan tambahan itu kepada Bilal bin Rabah. Bilal menambahkan redaksi adzan tersebut tatkala melihat sebagian umat Islam lebih memilih melanjutkan tidur di waktu fajar ketimbang shalat Subuh. Tentu saja, Bilal lebih dulu berkonsultasi kepada Nabi SAW yang kemudian menyetujuinya.
Dalam lafal adzan, terdapat kalimat hayya ‘alal-falah, yang artinya marilah menuju kemenangan. Kata al-falah dalam bahasa Arab berarti an-najah(kesuksesan), al-fauz (kemenangan), dan adh-dhafar (pencapaian). Apabila diresapi, makna kalimat hayya ‘alal-falah yang terdapat dalam adzan sesungguhnya mengajak umat Islam berjuang dalam kehidupan dunia untuk meraih ridha Allah semata.
Dengan kata lain, dalam Islam sejatinya tidak ada istilah kata kalah. Yang ada hanya kemenangan. Hanya sayang sunggguh sayang, di berbagai aspek kehidupann nyata di dunia saat ini, umat Islam ternyata banyak mengalami kekalahan….
Saya telah memaparkan hal-hal penting sekitar Asal Usul Adzan. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi yang membacanya.
*****
Sumber Gambar: hasil scan dari buku Ensiklopedi Tematis Al-Qur’an, Jakarta, PT Kharisma Ilmu, Tahun 2005.
00.47 | Posted in History | Read More »





